id="fb-root"> expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Translate

Laman

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2024

“Perbaikilah Gereja-Ku”: Bukan Sekadar Renovasi!


    Suatu ketika, di Gereja San Damiano, Santo Fransiskus dari Assisi mendengar suara dari Salib "perbaikilah Gereja-Ku!". Fransiskus spontan melakukan aksi “penggalangan dana” untuk merenovasi Gereja itu, caranya: menjual kain bapaknya!

    Ternyata oh ternyata yang dimaksud Yesus bukan perbaikan semacam itu. Maksud-Nya adalah memperbaiki diri dan Gereja yang saat itu sedang dalam krisis moral dan spiritual, ketika para pengikut Kristus termasuk para klerus dan petinggi Gereja tidak hidup sebagaimana mereka seharusnya. Sepertinya panggilan serupa juga bergema bagi kita di zaman ini.

Kamis, 14 April 2022

Hai Gereja Buka Pintumu!


"Marilah kepada-Ku kamu semua yang letih, lesu, dan berbeban berat..."

*khusus mereka yang telah divaksin lengkap, tidak berusia di atas 60 tahun, 

dan sudah mendaftarkan diri.... 


     Kali ini, izinkanlah aku sedikit berkeluh kesah dan memberikan kritik terkait beberapa kebijakan yang menurutku "tidak terlalu bijak", salah satu yang utama: penutupan Gereja di masa pandemi. Bukan maksudku tidak mengacuhkan pandemi yang sedang terjadi, meremehkannya, apalagi tidak bersimpati dengan para korban, aku hanya berpendapat bahwa pilihan untuk menutup Gereja hingga membatasi umat untuk merayakan Misa bukanlah pilihan terbaik yang bebas masalah, apalagi opsi yang pantas untuk dipertahankan.

Selasa, 28 September 2021

Absurditas Penderitaan

 

     Hari-hari belakangan ini pikiranku sedang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang penderitaan. Mengapakah harus menderita? Apakah maknanya? Dapatkah kita melepaskan diri darinya atau mungkin haruskah? Maka, aku ingin menumpahkan semua itu dalam tulisan ini sambil berusaha untuk terus mencari sekaligus berbagi penderitaan dengan kalian.

Jumat, 16 Juli 2021

Semesta dan Kebebasan Manusia

(Sumber Gambar)

"Artikel ini diunggah atas izin Sang Pencipta Semesta dan kebebasan penulis."

     "Semesta tidak mendukung","semesta menangis","semesta tertawa" akhir-akhir ini kita sering kan membaca atau mendengar kata-kata ini? Entah awalnya dari mana, entah dengan maksud apa, yang jelas ini menggelitik rasa penasaranku akan "kuasa semesta" ini. Apakah "semesta" sungguh berkuasa mutlak akan nasib manusia? Apakah kebebasan manusia hanya ilusi? Aku akan membagikan sedikit pandanganku dengan tulisan ini.

Kamis, 08 April 2021

Di Balik Si "Pemersatu Bangsa"

C.S. Fritz - https://dribbble.com/shots/8505471-Pornography

     Pornografi di abad 21 sepertinya bukan lagi hal yang tabu, setidaknya tidak se-tabu zaman-zaman sebelumnya. Semakin hari perbincangan dan hiburan berbau pornografi semakin sering ditemukan baik di dunia maya maupun di kehidupan sehari-hari. Pornografi bahkan mendapat gelar kehormatan sebagai "pemersatu bangsa" seakan semua kaum dan bangsa dari segala latar belakang mampu dipersatukan oleh konten proses perkembangbiakan manusia ini. Lantas benarkah sang "pemersatu bangsa" ini hal yang normal bahkan baik untuk manusia dan masyarakat? Ataukah justru ia musuh dalam selimut yang tanpa disadari menghancurkan manusia?

Sabtu, 27 Maret 2021

Hidup Telah Dinyatakan!

The Annunciation - Fra Angelico

     Dulu, ada masa saat kehadiran seorang anak dalam keluarga disambut dengan sukacita. Dalam tradisi manusia, ada jutaan cara merayakannya. Bagaimana manusia bersyukur atas kehadiran insan baru yang ada di rahim ibu, bagaimana menjaga tumbuh kembangnya hingga akhirnya dilahirkan dan melihat dunia. Sayang, agaknya zaman mulai berubah. Kehadiran insan baru tak lagi disambut bahagia, bahkan disesalkan keberadaannya. Insan itu seakan diragukan keinsanannya, layak dimusnahkan untuk kebaikan bersama katanya. Lantas, benarkah kehadiran seorang anak tak lagi bermakna? Benarkah hidup manusia tak lebih dari sekadar beban dan masalah belaka?

Sabtu, 29 Agustus 2020

Dipenjara "Kebebasan"

      Kebebasan, Kebebasan, Kebebasan, Merdeka! Merdeka! Merdeka!

    Kata-kata yang menarik dan menggugah semangat bukan? kata-kata yang selalu terngiang dalam sejarah dunia, yang selalu digaungkan dan bahkan diperjuangkan hingga mati oleh banyak orang. Kata yang menjadi tujuan dari banyak seminar, demonstrasi, dan berbagai macam obrolan dari bincang politik para ahli, diskusi para filsuf, hingga cangkruk di warung kopi. "Kapan bebas dari PR?" kata yang satu dan "Kapan bebas dari hutang?" kata yang lain. Dalam bernegara banyak yag berpikir kapan bebas dari korupsi? tapi di balik meja ada yang juga memeras otak bagaimana bebas dari jeruji besi atau bebas dari tangkapan KPK. Konsep kebebasan bagiku sangat abstrak. Aku menerima kenyataan ini bahwa hingga saat artikel ini dibuat aku belum bisa mengetok palu di pikiranku tentang definisi kebebasan, atau bagaimana menjadi benar-benar bebas, atau perlukah kita benar-benar bebas? ataukah keterikatan akan sesuatu ternyata penting? Aku menerima kebodohan itu dan berusaha mencatatnya lewat artikel ini dan berharap mungkin suatu hari aku bisa menentukan langkah dan prinsip hidupku tentang ini.

Jumat, 27 September 2019

"Dipenjara Aturan"


     "Aturan ada untuk dilanggar" entah darimana semboyan ini berasal yang jelas hal itu sangat menggangguku. Setidaknya akibat dari perbedaan pandangan ini ratusan diskusi dan "debat" tercipta baik dengan teman, keluarga, hingga beberapa guru di sekolah. Alasannya sederhana, bagiku aturan ada agar tidak terjadi kekacauan, maka sudah layak dan sepantasnyalah kita menaatinya. Namun itu semua ditentang atas dasar kebebasan katanya. Bagiku justru aturan dibuat untuk melindungi kebebasan manusia yang kadang terlalu liar. Aturan ada agar kebebasan manusia, hak mereka, tidak merampas hak dan kebebasan orang lain. Tentu saja di dunia ini tak ada kebebasan yang total, nyatanya sejak awal hidup manusia tak ada kebebasan kapan, dimana, dan oleh siapa kita dilahirkan. Matipun bila tidak bunuh diri kita tak bebas menentukan kapan maut menjemput, bunuh diripun terkadang bukan jaminan nyawa bisa melayang, ditambah lagi berbagai hal yang tak ada hubungannya dengan kebebasan manusia, bencana alam misalnya. Intinya memperjuangkan kebebasan bukan berarti alasan untuk melanggar aturan.

Rabu, 05 November 2014

Janji Vs Komitmen


     Selamat datang kembali guys! Kali ini admin akan menuliskan Pendapat admin tentang Janji dan Komitmen. Tentu saja kedua hal tersebut sangatlah berbeda namun oleh masyarakat sering disalahartikan oleh masyarakat kebanyakan. Baiklah guys, selamat membaca!!!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...